Container Icon

desain photoshop 2



ingin file photoshop?? klik DI SINI

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

desain photoshop 1



Ingin file photoshop?? klik DI SINI

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

poster kesehatan









Ingin file poster corel draw,, klik DI SINI


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kode genetik dan translasi

KODE GENETIK DAN TRANSLASI

A.    Kode Genetik
1.      Kode Genetik
·       Kode genetik adalah cara pengkodean urutan nukleotida pada DNA           atau RNA untuk menentukan urutan asam amino pada saat      proses sintesis protein.
·       Informasi pada kode genetik ditentukan oleh basa nitrogen pada     rantai DNA yang akan menentukan susunan asam amino.
·       Mudahnya dari susunan kode kode genetik itu ternyata bisa             digunakan sebagai bahasa sandi antar DNA dan RNA untuk   mengumpulkan asam amino yang merupakan kumpulan 3 basa         nitrogen yang akhirnya bisa menjadi protein ( poly peptida )
            Para peneliti melakukan penelitian pada bakteri Escherichia coli
a)      mula mula digunakan basa nitrogen kode singlet (kode yang terdiri atas satu huruf atau satu basa)maka ternyata hanya diperoleh 4 asam amino saja yang dapat diterjemahkan padahal asam amino yang ada di alam itu berjumlah 20 , tentu asam amino ini harus diterjemahkan semua agar protein yang dihasilkan dapat digunakan lengkap
b)      kemudian para ilmuwan mencoba lagi dengan kodon duplet (kombinasi dua basa) dan ternyata baru dapat untuk menterjemahlkan 16 asam amino ini pun belum cukup juga, mengingat jumlahnya 20
c)      Kemudian dicoba dengan triplet (disusun 3 basa nitrogen) , dengan sempurna dapat menterjemahkan 64 asam amino hal ini tidak mengapa sekalipun melebihi 20 asam amino dari 64 asam amino yang diterjemahkan ada yang memiliki simbul/fungsi yang sama , maksudnya satu asam amino ada yang disusun oleh lebih dari satu rangkaian triplet (kodon)
d)     triplet atau Kodon itu diantaranya adalah pada kodon yang menyusun asam assparat (GAU dan GAS) sama dengan asam-asam tirosin(UAU, UAS) sama juga dengan triptopan (UGG) dan masih banyak lagi , lihat cakram kode genetik dibawah ini

                        Jadi meskipun yang terbentuk ada 64 variasi ini tidak bermasalah    karena Asam amino yang terkodekan ini sangat menguntungkan pada   proses pembentukkan protein karena dapat menggantikan asam amino   yang kemungkinan rusak selain itu dari 20 asam amino. Jumlah asam amino ini yang melebihi jumlah 20 macam asam amino, terjadi suatu “kelimpahan” dalam kode genetika, di mana terdapat lebih dari satu kodon memberi kode bagi satu asam amino tertentu. Misalnya asam amino phenilalanin yang merupakan kode terjemahan dari kodon UUU atau UUC. Istilah yang diberikan oleh para ahli genetika pada kelimpahan semacam ini adalah degenerasi atau mengalami redundansi. Dapat dikatakan kode genetik bersifat degeneratif dikarenakan 18 dari 20 asam amino ditentukan oleh lebih dari satu kodon, yang disebut kode sinonimus. Hanya metionin dan triptofan yang mempunyai kodon tunggal. Kodon sinonimus mempunyai perbedaan pada urutan basa ketiga.Selain itu terdapat pula kodon-kodon yang memiliki fungsi yang sama. Misalkan fungsi kodon asam asparat (GAU dan GAS) sama dengan fungsi kodon asam tirosin (UAU,UAS) dan juga triptopan (UGG). Hal ini justru sangat menguntungkan pada proses pembentukkan protein karena dapat menggantikan asam amino yang kemungkinan rusak. Proses sintesis protein (polipeptida) baru akan diawali apabila ada kodon AUG yang mengkode asam amino metionin, karenanya kodon AUG disebut sebagai kodon permulaan (kode ‘start’). Sedangkan berakhirnya proses sintesis polipeptida apabila terdapat kodon UAA, UAG, dan UGA (pada prokariotik) dan UAA (pada eukariotik). Kodon UAA,UAG, dan UGA tidak mengkode asam amino apapun dan merupakan agen pemotong gen (tidak dapat bersambung lagi dengan double helix asam amino) disebut sebagai kodon terminasi/kodon nonsense (kode ‘stop’). Kode genetik berlaku universal, artinya kode genetik yang sama berlaku untuk semua jenis makhluk hidup. Dengan adanya kodon permulaan dan kodon terminasi, berarti tidak semua urutan  basa berfungsi sebagai kodon. Yang berfungsi sebagai kodon hanyalah urutan basa yang berada di antara kodon permulaan dan kodon terminasi. Urutan basa yang terletak sebelum kodon permulaan dan setelah kodon penghenti tidak dibaca sebagai kodon.
           
                        Ada beberapa hal yang penting bahwa masing masing kode itu        mempunyai karakter yang berbeda satu sama lainnya untuk peran dan     nama asam amino
¨    diantaranya ada yang berfungsi sebagai agen pemotong gen atau tidak dapat bersambung lagi dengan doubel helix asam amino yang berfungsi sebagai agen pemotong gen diantaranya (UAA, UAG, UGA) yang kemudian ketiga kodon ini kita sebut dengan kode stop
¨    Beberapa sifat dari kode triplet diantaranya: Kode genetik ini mempunyai banyak sinonim sehingga hampir setiap asam amino dinyatakan oleh lebih dari sebuah kodon. Contoh semua kodon yang diawali dengan SS memperinci prolin (SSU, SSS, SSA dan SSG) semua kodon yang diawali dengan AS memperinci treosin (ASU, ASS, ASA, ASG).
¨    Jadi meskipun terlihat liar ternyata kalau kita mempelajari detail ada hal-hal yang menarik. Tidak tumpang tindih, artinya tiada satu basa tungggal pun yang dapat mengambil bagian dalam pembentukan lebih dari satu kodon, sehingga 64 itu berbeda-beda nukleotidanya.

                        Semenjak tahun 1960an semakin nyata bahwa ada paling sedikit     tiga residu nukleotida DNA diperlukan untuk mengkode untuk       masing-masing asam amino.
·       Empat huruf kode DNA (A, T, G, dan C) dalam grup dua huruf      menghasilkan 16 kombinasi yang berbeda, tidak cukup untuk    mengkode 20 asam amino.
·       Empat basa tiga huruf menghasilkan 64 kombinasi yang berbeda.
·       Genetik eksperimen awal membuktikan bahwa tidak hanya kode     genetik atau     kodon untuk asam amino berupa susunan tiga huruf        (triplet) dari nukleotida tetapi juga bahwa kodon tidak         tumpang-tindih dan tidak ada jeda antara kodon residu asam amino yang berurutan. Susunan asam amino protein kemudian        digambarkan oleh suatu susunan yang linier dari kodon triplet yang             berdekatan.
·       Kodon yang pertama pada susunan menetapkan suatu kerangka       pembacaan(reading frame), di mana kodon yang baru memulai         pada setiap tiga residu nukleotida.
·       Pada skema ini, ada tiga kerangka pembacaan yang mungkin untuk             setiap   urutan DNA yang diberi, dan masing-masing secara umum        akan memberi \suatu urutan berbeda terhadap kodon.






Tabel. Kode Genetik

            Karakter kode genetik :
*      Kode genetik ini mempunyai banyak sinonim, sehingga hampir semua asam amino dinyatakan oleh lebih dari sebuah kodon. Contohnya , tiga asam amino (arginin, serin dan leusin) masing-masing mempunyai 6 kodon sinonim.
*      Tetapi untuk banyak kodon sinonim yang menyatakan asam amino yang sama, dua basa permulaan dan triplet adalah tetap sedangkan basa ketiga dapat berlainan. Contohnya , semua kodon yang dimulai dengan SS memperinci prolin (SSU, SSS, SSA dan SSG) dan semua kodon yang dimulai dengan AS memperinci treonin (ASU, ASS, ASA dan ASG).
*      Fleksibilitas dalam nukleotida dari suatu kodon ini dapat menolong membuat sekecil mungkin akibat adanya kesalahan.
*      Tidak ada tumpang tindih, artinya tiada satu basa tunggal pun yang dapat mengambil bagian dalam pembentukan lebih dari satu kodon, sehingga 64 kodon itu semua berbeda-beda nukleotidanya.
*      Kode genetik dapat mempunyai dua arti, yaitu kodon yang sama dapat memperinci lebih dari satu asam amino. Contohnya, kodon UUU biasanya merupakan kode untuk fenilalanin, tetapi bila ada streptomycin dapat pula merupakan kode untuk isoleusin, leusin atau serin.
*      Kode genetik tidak mempunyai tanda untuk menarik perhatian, artinya tiada sebuah kodon pun yang dapat diberi tambahan tanda bacaan.
*      Kodon AUG disebut juga kodon permulaan, karena kodon ini memulai sintesa rantai polipeptida.
*      Beberapa kodon dinamakan kodon non-sens (tak berarti) karena kodon-kodon ini tidak merupakan kode untuk salah satu asam amino pun, misalnya UAA, UAG dan UGA.
*      Kode genetik itu ternyata universal karena kode yang sama berlaku untuk semua macam mahluk hidup.
*      Tiap triplet yang mewakili informasi bagi suatu asam amino tertentu dinyatakan sebagai kodon.Kode genetika bersifat degeneratif dikarenakan 18 dan 20 macam asam amino ditentukan oleh lebih dari satu kodon, yang disebut kodon sinonimus.Hanya metionin dan triptofan yang memiliki kodon tunggal. Kodon sinonimus tidak ditempatkan secara acak, tetapi dikelompokkan.
*      Kodon sinnonimus memiliki perbedaan pada urutan basa ketiga.

B.     Pengertian Translasi
            Translasi adalah proses penerjemahan urutan nukleotida atau kodon yang ada pada molekul mRNA oleh tRNA menjadi rangkaian asam-asam amino yang menyusun suatu polipeptida atau protein.
            Dalam proses translasi, sel menginterpretasikan suatu kode genetik menjadi protein yang sesuai.Kode geneti tersebut berupa serangkaian kodon di sepanjang molekul RNAd, interpreternya adalah RNAt.RNAt mentransfer asam amino-asam amino dari kolam asam amino di sitoplasma ke ribosom.Molekul RNAt tidak semuanya identik.Pada tiap asam amino digabungkan dengan RNAt yang sesuai oleh suatu enzim spesifik yang disebut aminoasil-RNAt sintetase ( aminoacyl-tRNA synthetase ).Ribosom memudahkan pelekatan yang spesifik antara antikodon RNAt dengan kodon RNAd selama sintesis protein.Sebuah ribosom tersusun dari dua subunit, yaitu subunit besar dan subunit kecil. Subunit ribosom dibangun oleh protein-protein dan molekul-molekul RNAr.
            Tahap translasi dapat dibagi menjadi tiga tahap seperti transkripsi, yaitu inisiasi elongasi, dan terminasi.Semua tahapan ini memerlukan faktor-faktor protein yang membantu RNAd, RNAt, dan ribosom selama proses translasi.Inisiasi dan elongasi rantai polipeptida jga membutuhkan sejumlah energi yang disediakan oleh GTP (guanosin triphosphat), suatu molekul yang mirip ATP.













C.     Tahap-tahap Translasi

1.      Inisiasi
      Tahap inisiasi terjadi karena adanya tiga komponen yaitu mRNA, sebuah tRNA yang memuat asam amino pertama dari polipeptida, dan dua sub unit ribosom. mRNA yang keluar dari nukleus menuju sitoplasma didatangi oleh ribosom, kemudian mRNA masuk ke dalam “celah” ribosom. Ketika mRNA masuk ke ribosom, ribosom “membaca” kodon yang masuk. Pembacaan dilakukan untuk setiap 3 urutan basa hingga selesai seluruhnya. Sebagai catatan ribosom yang datang untuk mebaca kodon biasanya tidak hanya satu, melainkan beberapa ribosom yang dikenal sebagai polisom membentuk rangkaian mirip tusuk sate, di mana tusuknya adalah “mRNA” dan daging adalah “ribosomnya”. Dengan demikian, proses pembacaan kodon dapat berlangsung secara berurutan. Ketika kodon I terbaca ribosom (misal kodonnya AUG), tRNA yang membawa antikodon UAC dan asam amino metionin datang. tRNA masuk ke celah ribosom. Ribosom di sini berfungsi untuk memudahkan perlekatan yang spesifik antara antikodon tRNA dengan kodon mRNA selama sintesis protein. Sub unit ribosom dibangun oleh protein-protein dan molekul-molekul RNA ribosomal.



2.      Elongasi
      Pada tahap elongasi dari translasi, asam amino-asam amino ditambahkan satu per satu pada asam amino pertama (metionin). Ribosom terus bergeser agar mRNA lebih masuk, guna membaca kodon II. Misalnya kodon II UCA, yang segera diterjemahkan oleh tRNA berarti kodon AGU sambil membawa asam amino serine. Di dalam ribosom, metionin yang pertama kali masuk dirangkaikan dengan serine membentuk dipeptida. Ribosom terus bergeser, membaca kodon III. Misalkan kodon III GAG, segera diterjemahkan oleh antikodon CUC sambil membawa asam amino glisin. tRNA tersebut masuk ke ribosom. Asam amino glisin dirangkaikan dengan dipeptida yang telah terbentuk sehingga membentuk tripeptida. Demikian seterusnya proses pembacaan kode genetika itu berlangsung di dalam ribobom, yang diterjemahkan ke dalam bentuk asam amino guna dirangkai menjadi polipeptida. Kodon mRNA pada ribosom membentuk ikatan hidrogen dengan antikodon molekul tRNA yang baru masuk yang membawa asam amino yang tepat. Molekul mRNA yang telah melepaskan asam amino akan kembali ke sitoplasma untuk mengulangi kembali pengangkutan asam amino. Molekul rRNA dari sub unit ribosom besar berfungsi sebagai enzim, yaitu mengkatalisis pembentukan ikatan peptida yang menggabungkan polipeptida yang memanjang ke asam amino yang baru tiba.

      Kompleks inisiasi bergabung dengan subunit besar ribosom (50S), dan metionil-tRNAfMet terikat pada tapak P.  Berpasangannya triplet kodon inisiasi pada mRNA dengan antikodon pada metionil-tRNAfMet di tapak P menentukan urutan triplet kodon dan aminoasil-tRNAfMet berikutnya yang akan masuk ke tapak A. Pengikatan aminoasil-tRNAfMet berikutnya, misalnya alanil- tRNAala, ke tapak A memerlukan protein-protein elongasi EF-Ts dan EF-Tu. Pembentukan ikatan peptida antara gugus karboksil pada metionil-tRNAfMet di tapak P dan gugus amino pada alanil-tRNAala di tapak A dikatalisis oleh enzim peptidil transferase, suatu enzim yang terikat pada subunit ribosom 50S. Reaksi ini menghasilkan dipeptida yang terdiri atas f-metionin dan alanin yang terikat pada tRNAala di tapak A.
      Langkah berikutnya adalah translokasi, yang melibatkan:
(1)    perpindahan f-met-ala- tRNAala dari tapak A ke tapak P dan
(2)    pergeseran posisi mRNA pada ribosom sepanjang tiga basa sehingga triplet kodon yang semula berada di tapak A masuk ke tapak P. 

Dalam contoh ini triplet kodon yang bergeser dari tapak A ke P
tersebut adalah triplet kodon untuk alanin. Triplet kodon berikutnya, misalnya penyandi serin, akan masuk ke tapak A dan proses seperti di atas hingga translokasi akan terulang kembali.  Translokasi memerlukan aktivitas faktor elongasi berupa enzim yang biasa dilambangkan dengan EF-G.
     Pemanjangan atau elongasi rantai polipeptida akan terus berlangsung hingga suatu tripet kodon yang menyandi             terminasi memasuki tapak A.






3.      Terminasi
      Tahap akhir translasi adalah terminasi. Elongasi berlanjut hingga kodon stop mencapai ribosom. Triplet basa kodon stop adalah UAA, UAG, dan UGA. Kodon stop tidak mengkode suatu asam amino melainkan bertindak sinyal untuk menghentikan translasi. Polipeptida yang dibentuk kemudian “diproses” menjadi protein.


D.    Performance Ribosom
















DAFTAR PUSTAKA

Diunduh pada hari Minggu, 29 April 2012)
            (Achmad,2011)
Diunduh pada hari Kamis, 3 Mei 2012)
Diunduh pada hari Minggu, 29 April 2012)
Di unduh pada hari Kamis, 3 Mei 2012)
















  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Corynebacterium diphteriae

A. Corynebaterium diphtheriae Corynebacterium diphtheriae is a pathogenic bacterium that causes diphtheria. Diphtheria is a contagious infectious disease and meny moaned the upper airway in the form of pseudo membrane and exotoxin transmission through air and food. Corynebacterium diphtheriae is a creature of facultative anaerobic and gram-positive, characterized by an encapsulated, not berspora, motionless, and a rod-shaped 1 to 8 μm and width of 0.3 to 0.8 μm. These bacteria release diphtheria exotoxin. Diphtheria toxin is heat-resistant polypeptide not Dapa tmematikan at a dose of 0.1 mg / kg.
Modes of Transmission The bacteria is transmitted through saliva splashes of objects or coughing patient or food that has been contaminated by bacteria. When it has entered the body, the bacteria release a toxin or poison. This toxin will spread through the blood and the bias caused damage throughout the body tissues, especially the heart and nerves.
Mechanism of Corynebacterium diphtheriae
In general, these bacteria are not invasive and rarely get into the bloodstream, but the local breed on their mucous membranes or on dead tissue. The toxin produced can enter the bloodstream and spread throughout the body. When bacteria multiply and release toxins, leading to cell death, and with fibrin, leukocytes (white blood cells), as well as other blood components that form the lining of bias berwarrna white, yellow, or rather gray. Along with terjadiny apembengkaan, it can cause airway obstruction, which can be fatal. Bias toxin reaches the heart, with a specific mechanism Dapa tmenghambat protein synthesis in cardiac cells and damage mitokhondria. This is so may cause "fatty infiltration" followed by the occurrence of fibrosis, heart function will then tergannggu. Bias deaths occurred. Toxins can also cause damage to the myelin sheath (nerve cell packing) and the nerve cells themselves are also damaged bias. Compared with the sensory nerves, motor neurons more damage, nerve function is further impaired
The disease process
A. Diarbsorbsi toxin into the mucous membranes and causes the destruction of the superficial epithelium and inflammatory response. 2. Epithelial necrosis which have embedded in the exudate of fibrin and red blood cells and white, forming a "pseudo membrane" which are often coated gray tonsils, pharynx, or larynx. Any attempt to remove the pseudo capillary membrane will break and cause bleeding. 3. Regional lymph nodes in the neck are enlarged, and edema can occur is evident throughout the neck. Idifteria bacteria produce a toxin in the membrane continues to be active. 4. These toxins cause damage diarbsorbsi and far away, especially parenchymal degeneration, fatty infiltration, and necrosis of cardiac muscle, liver, kidneys, and adrenal, sometimes followed by severe bleeding. These toxins cause nerve damage that often results in paralysis of the soft palate, the eye muscles, or ekstermitas.
Diphtheria Diphtheria wound or skin tropic areas was found. A membrane may form on infected wounds that are not dapatsembuh. However, absorbs toxins are usually small and negligible systemic effects. "Virulence" diphtheria bacteria due to its ability to cause infection, growing fast, and then quickly remove toxins are absorbed effectively. C. diphteriae not need a genie to cause toksi local infection or skin for example, in nasopharynx remain non toksi istren the genie does not cause local or systemic toxic effects. C. menginfasi diphteriae not actively network in and practically never entered circulation.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Clostridium botulinum

Clostridium botulinum A German physician and poet, Justinus Kerner called botulinum toxin in 1820 as the "Sausage Poison" (sausage poison), since these bacteria grow in the lead poisoning due to poor handling of processed meat. He was the first to put forward the idea of ​​using botulinum toxin as a tool terapi.Tahun 1895 Emile Van Ermengem first time to isolate the bacteria Clostridium botulinum which produces botulinum toxin. Then in 1944 Edward Schantz Clostridium botulinum and isolated breed poison and then 1949 Burgen group discovered that botulinum toxin inhibits neuromuscular transmission.
Currently a purified botulinum toxin used for beauty treatment, therapy crossed eyes (strabismus), (blepharospasm) and muscle pain (myofascial) in athletes.
Clostridium botulinum 


 
 
Fig 2. C. botulinum

Botulinum bacteria are found everywhere, in soil, sediment towing, intestines and feces binatang.Clostridium botulinum is an anaerobic bacteria, gram positive, spore-forming, rod-shaped and relatively besar.Spora bacteria can be inhaled or ingested, or be able to wound infection Thus terbuka.Walaupun berbahaya.Botulism bacteria and spores do not, the state of paralysis, caused by a toxin produced by bacteria, which means the victim was not infected but botulism poisoning. This toxic substance known is probably the most acutely toxic, with a lethal dose of 200-300 pg / kg, which means when exceeding 100 grams could kill every human on earth. (As a rat poison Strychine picture, sometimes referred to as a highly poisonous toxin has a LD50 of 1 mg / kg or 1 billion pg / kg). There are seven strains of botulism, each produces a potent neurotoxin protein. Type A, B, E and F cause botulism in humans. Type C-alpha causes botulism in domestic poultry and liar.Tipe C-beta and D cause botulism in cattle. Seven types of botulism, strain G, was isolated from soil samples, but rare and has not shown a relationship that cause human or animal botulism. Type A and some type B and type F protein decomposition odor of animals and cause food to rot, and rotten meat. Type E and some type B, C, D and F are not proteolytic (protein digesting animals they do not). When it appears, the type of botulism can not be detected with a strong odor. Clostridium bacteria are bacteria resistant and can withstand heat of boiling the spores are destroyed lama.Untuk, food must be heated to a temperature of 120oC or more, as in the use of pressure cooker. Toxins produced by bacteria can be destroyed by heat. To destroy the toxin is derived from food, the food must be heated to 85 ° C or more for five minutes, or boil for at least 10 minutes.
Vector Clostridium is widespread throughout dunia.Botulinus present in the form of bacteria and spores in soil, sediments at sea, the surface of fruits and vegetables, in the intestines of mammals and fish and in gill and vixcera of shellfish, crabs. Because botulinum spores, contained in soils and sediments on the seabed, these spores can end up in the intestines of animals and fish that eat grass, then enter the human food chain. Almost in a few foods with a low pH (4.6 or less) can support the growth of bacteria and then produce it racun.Selain berkecambahnya factors that can support the spores is a state without oxygen - anaerobic, low pH can not destroy or inactivate toxins that have been produced. Salt levels below 7%, sugar content below 50%, temperatures between 4 ° C - 49oC or room temperature, high humidity levels, at least competitive with the bacterial flora. Both human adults and infants, usually inhale the spores, but less affected by this efeknya.Hal be due to the immune system that destroys the spores before they can grow and produce racun.Botulism in infants caused by swallowing the bacteria, rather than swallowing poison. There are three types of poisoning by way of contracting: Almost all events (90%) occurred due to poor food cans are preserved. Botulism due to food (foodborne botulism) is usually caused by contaminated meat (including seafood), and canned vegetables. Botulism in infants (Infant botulism) is a form of botulism the most umum.Disebabkan by inhaling the spores along with particles of dust that mikroskopis.Bagaimanapun source, children under one year do not have a good immune system and have not had an important protein in the intestines to destroy spores bakteri.Spora germinate and produce toxins (the colon) that attach to the motion around the nerves, causing paralysis and, in extreme cases, death. Botulism in the wound (wound botulism) is a rare form of botulism the most. Can occur when bacteria to wound infection (such as laceration or breakdown of bone formation) and produce toxin in vivo. Spores grown locally (in the wound) and toxins circulate through the blood vessels to reach other parts of tubuh.Jalan spores enter the wound may be small, and looks are not important.
Symptom Symptoms usually occur after eating a day, although the symptoms can be seen after 10 hari.Sebagian weak and lame, in general complain of fatigue, dry mouth and difficulty swallowing.
Mechanism Botulinum bacteria will be dangerous when active metabolic and producing botulinus toxin. In case of spores, botulinum is harmless. Heat can allow spores to germinate and active and heat can also kill other bacteria that become rivals with Clostridium Botulinum in a Host. Botulinum toxin structure and function have similarities with both tetanus.Kedua toxin is botulinum neurotoxin but the toxin affects the peripheral nervous system because it has afiniti to neurons at the neuromuscular junction. The toxin is synthesized as a single polipeptid chain (150.000 daltons) are less toxic. Nonetheless after the cut by a protease, it generates two chains: a light chain (subunit A, 50.00 dalton) and heavy chain (subunit B, 100,000 daltons) which duhubungkan by dwisulfida bond.
 
A subunit is the most toxic toxin is botulinum type endopeptidase diketahui.Toksin which prevented the release of acetylcholine at a meeting between the muscle by the nerve (myoneural junction). It is specific to the nerve endings edge / periphery to the place where the motor neurons to stimulate muscles. This toxin acts such as tetanus toxin and solve synaptobrevin, interfere with the formation (and release) that contains vesicles of acetylcholine. Exposed cells that fail to release neurotransmitter (acetylcholine). If the muscle does not receive the signal rather than the nerve, he will not contract (contract). It causes paralysis (paralysis) motor systems. During the growth of C. Botulinum produces at least seven different toxins, including neurotoxins, enterotoxins, and haemotoxin, including several known poisons most berpotensial.Dalam certain cases, a single strain can produce more than one type of poison. Botulinum toxin primarily affects the nervous system around, in particular: a) Ganglionic synapses b) Post-ganglionic parasympathetic synapses c) the myoneural junction, the end of the nerve where the nerve joins the muscle and nerve terminal where the toxin blocks the movement (the motor nerve terminals)
Neurotransmitters in the body is sending a message to the chemical used by cells - nerve cells to communicate with each other and which are used by nerve cells to communicate with muscles. Botulism toxins cause flaccid paralysis characteristic by breaking one of the three proteins required for neurotransmitter release this blockade acetikolin release and the ability of nerve cells to communicate.
 
With terblokadenya nerve terminal by poison, nerves can not send signals to the muscles to berkontraksi.Pasien experiencing weakness or paralysis, usually starting with a face / face and throat, chest and diaphragm and chest muscles lengan.Ketika exposed to its influence, breathing becomes difficult, hampered or fully lumpuh.Di some cases, patients died from asphyxia / chest tightness. Botulinum toxin acts by binding presynaptically to the location that is known to have high affinity in the cholinergic nerve terminals and reduce the release of acetylcholine, causing effects otot.Mekanisme nerve blockade is used as the basis for the development of this toxin as a therapeutic tool. Recovery occurs when the proximal axonal sprouting and muscle reinnervation occurs with the formation meeting of nerve - muscle (neuromuscular junction) is new. Botulinum toxin type and location of the target: A. BTX-A and BTX-E broke the synaptosome-associated protein (SNAP 25), a presynaptic membrane protein required for the incorporation of neurotranmitter containing vesicles. 2. BTX-B,-D BTX, and BTX-F broke the vesicle-associated membrane protein (Vamp), also known as synaptobrevin. 3. BTX-C acts by breaking syntaxin, a membrane protein targets.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS